Home Obat-obatan Waspadai Efek Toksik Nikel Pada ADO
Waspadai Efek Toksik Nikel Pada ADO PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 16 September 2008 16:55
DR. Dr. Mulyadi M.Djer SpA(K)

Waspadai Efek Toksik Nikel Pada ADO

anak2.jpgPengobatan DAP dengan non bedah telah menjadi terapi pilihan diberbagai negara. Namun bagaimana efek toksik nikel yang terkandung dalam ADO?

Amplatzer duct occluder (ADO) saat ini telah digunakan secara luas untuk menutup duktus arteriosus persisten (DAP). Food and Druds Administration (FDA) Amerika Serikat pun telah merekomendasikan ADO  untuk tatalaksana kasus kelainan kongenital terbanyak ini. Tapi apakah nikel yang terkandung dalam ADO dapat bersifat toksik bagi pasien?


Pernyataan diatas menarik perhatian DR.Dr. Mulyadi M. Djer SpA(K). Koordinator Penelitian dan Pengembangan Departemen IKA FKUI-RSCM ini melakukan penelitian dengan tema" Pengaruh  Penutupan Duktus Arteriosus Persisten Transkateter menggunakan Amplatzer Duct Occluder pada Kadar Nikel Darah dan Efek Toksiknya serta Pola Perubahan Dimensi dan Faal Ventrikel Kiri", dalam rangka untuk mendapatkan gelar doktor dalam bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia.

Seperti diketahui, penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan kongenital terbesar yang ditemukan pada anak. Kejadiannya sepertiga dari seluruh kelaian kongenital. Angka kejadian PJB adalah satu dari 100 kelahiran  hidup. Di Indonesia, setiap tahun diperkirakan akan lahir 400.000 bayi dengan PJB, 10 persennya adalah duktus arteriosus persisten (DAP). "DAP merupakan PJB terbanyak setelah defek septum ventrikel (DSV)," kata pria kelahiran Padang, 29 Oktober 1964 ini.

Akibat DAP, jelas Mulyadi, terjadi pirau kiri ke kanan. Pirau akan menambah beban volume di atrium kiri (Aki) dan ventrikel kiri (Vki), sehingga dapat terjadi gagal jantung kiri. Untuk meningkatkan curah jantung, tubuh akan mengadakan kompensasi. Hormon B-type natriuretic peptide (BNP) merupakan hormon yang dilepas sel miokardium dalam keadaan terenggang. Menurut literatur, hormon BNP merupakan parameter yang dapat digunakan untuk memantau keberhasilan pengobatan gagal jantung.

Saat ini, Pengobatan PJB tertentu, seperti DAP, dengan menggunakan transkateter di pusat-pusat jantung terkemuka di dunia telah menjadi terapi pilihan dibanding dengan intervensi bedah. Tatalaksana PJB secara intervensi non bedah ini sama efektifnya dengan intervensi bedah, namun relatif kurang invasif dan memiliki beberapa keuntungan diantaranya : lama rawat lebih singkat, terhindar dari komplikasi operasi, bebas dari gangguan mesin jantung paru, dan tidak terdapat jaringan parut di dada, sehingga secara kosmetik lebih baik." Di Indonesia, seyogyanya tatalaksana PJB jenis tertentu tanpa operasi dapat terjadi pilihan utama," kata suami Noviyanti Anwar, SH ini.

ADO terbuat dari nitinol (nikel titanium naval ordnance laboratory). Nitinol mengandung 55% nikel dan 45% titanium. ADO bersifat shape memory (dapat diubah bentuknya menjadi lebih kecil sehingga masuk dalam kateter, kemudian setelah keluar dari kateter bentuk alat kembali  ke seperti semula), superelastis sehingga dapat mengembang sendiri begitu keluar dari kateter, tahan terhadap korosif dan tidak rapuh.

Lalu, apakah nikel dalam ADO menimbulkan efek toksik, seperti keracunan nikel yang menimpa pekerja industri nikel? Sayangnya, bagaimana pengaruh nikel pada pasien yang menggunakan ADO, sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Apakah komponen nikel yang diimplantasikan langsung ke rongga jantung dan pembuluh  darah, akan memiliki sifat yang sama dengan nikel yang masuk melalui saluran nafas atau salurean cerna, hingga kini belum ada laporan. Diketahui, efek yang ditimbulkan akibat pajanan oral nikel dapat berupa hemolisis, penurunan hematokrit, penekanan jumlah leukosit/ trombosit pada glukosa darah, dermatitis kontak, dan karsinogenik.

Untuk mengetahui efek nikel dalam ADO, DR. Mulyadi M.Djer SpAK(K) melakukan penelitian terhadap 20 pasien DAP, di RSCM, Jakarta. Penelitian ini berlangsung dari November  2006 hingga Februari 2008, dengan usia pasien antara 6 bulan sampai 24 tahun dengan median 23 bulan.

Hasilnya, menurut Mulyadi, tidak terbukti ditemukan efek toksik nikel dalam enam bulan pasca pemasangan ADO. Begitu pula dengan kadar nikel pasca penutupan DAP dengan ADO tidak terdapat peningkatan. Sementara pada darah tepi, glukosa darah dan faal ginjal tidak tampak perubahan akibat nikel. Bahkan ADO terbukti memperbaiki gejala klinis gagal jantung akibat DAP. Dan tidak ditemnukan adanya gangguan faaal sistolik. Namun demikian, karena ADO merupakan benda asing mengandung nikel dan titanium, maka pengamatan terus menerus tetap diperlukan.


Sumber : Amril. Majalah Farmacia. Agustus, 2008.



Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 16 September 2008 16:58
 

MALALARADIO 105.2 FM