Home Obat-obatan Batu Sandungan Itu Adalah Resistensi OAT
Batu Sandungan Itu Adalah Resistensi OAT PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 16 September 2008 16:47

Prof.dr. Tjakra Yoga Aditama, SpP(K),MARS, DTM&H,DTCE

Batu Sandungan Itu Adalah Resistensi OAT

 

batuk1.jpgHingga kini tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia. Dari data epidemiologik TB, sampai saat ini belum ada satu negarapun yang bebas dari tuberkulosis. Bahkan di negara maju sekalipun, yang pada mulanya kejadian tuberkulosis telah menurun, belakangan angka ini naik kembali sehingga TB disebut salah satu reemerging  disease.
 

 

Gambaran terkini TB di dunia dipaparkan Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE dalam orasinya yang bertema" Tuberkulosis, Masalah dan Perkembangannya", pada pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Auditorium FKUI, 12 Juli lalu.
Dari data WHO Global Tuberculosis Control Report 2008 menunjukkan, prevalensi TB pada 2006 adalah 14,4 juta orang. Dari data ini diketahui, pada 2006, diperkirakan ada 9,2 juta kasus TB baru, dimana 4,1 juta diantaranya adalah pasien dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif, artinya yang menular, dan 0,7 juta pasien  TB juga terinveksi HIV. Penambahan ini terjadi karena meningkatnya jumlah penduduk di lima negara penyumbang kasus TB terbesar di dunia: India, Cina, Indonesia, Afrika Selatan dan Nigeria.
Dari jumlah kasus TB di dunia, Indonesia pada posisi ketiga dengan kasus TB terbesar, setelah India dan Cina. Hal ini, lanjut pria kelahiran 3 September 1955 ini, dikarenakan populasi penduduk Indonesia yang besar, namun bila dilihat incidence rate tertinggi adalah negara di kawasan Afrika, 363 per 100.000 penduduk. "Bahkan Indonesia tidak masuk dalam 10 besar," ujar Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML), Dirjen P2PL Depkes RI ini.
Untuk Indonesia, WHO Report 2008 menyimpulkan prevalensi TB menunjukkan adanya penurunan dibanding tahun 1990-an. Pada 2006, insiden semua kasus TB sekitar 534.439 orang (234/100.000 penduduk), sedangkan pada 1990 kasusnya sekitar 626.867 orang (343/100.000 penduduk). Sementara jumlah kematian akibat TB pada 2006 sekitar 88.113 orang (38/100.000 penduduk), sedangkan pada 1990 sekitar 163.420 orang. " Secara umum data ini masih tinggi, sehingga menuntut para dokter untuk bekerja lebih keras lagi."kata Guru Besar FKUI yang juga panel ahli Farmacia ini.
Usaha menekan kasus TB dihadang resistensi obat anti TB. Penemuan obat -obat TB yang diharapkan dapat menjadi senjata mengurangi penambahan kasus TB malah membawa bencana resistensi, bahkan juga resistensi ganda (MDR).
WHO memperkirakan hampir setengah juta pasien MDR TB di dunia. Pada 2006, diperkirakan ada 489.139 pasien baru MDR TB didunia. Dari angka itu, 50% diantaranya ada Cina dan India, sementara 7% ada di Rusia. Kota Baku, ibukota Azerbaijan merupakan kota tetinggi kasus MDR, yakni 22,4%.
Indonesia, menurut WHO, terpapar sekitar 2% pasien MDR TB. Sementara data awal, dari penelitian di Jawa Tengah menunjukkan bahwa MDR pada pasien baru adalah 1,71% dan pada pasien lama 14,29%. Angka ini masih dalam analisis dan belum final. Sementara kasus XDR TB belum ditemukan," ujar Tjandra.
Penyebab resistensi ini, lanjut suami dr. Sri Susilawati, Sp.THT, akibat  kesalahan berbagai pihak. Pertama, dokter, karena memberikan OAT secara tidak tepat, baik dosis maupun lamanya dan tidak dapat meyakinkan pasien agar teratur dalam menjalani pengobatan. Kedua, pasien yang tidak disiplin dalam pengobatan. Ketiga, obat anti TB yang tidak berkualitas dan terakhir, fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak mumpuni. "Kesalahan utama pada dokter dan pasien," ungkapnya.
Fenomena MDR menjadi salah satu batu sandungan penting dalam penanganan TB. Pengobatan pasien MDR TB menjadi lebih sulit, lebih mahal, lebih banyak efek samping dengan tingkat kesembuhan yang relatif rendah. Kaidah umum pengobatan MDR TB antara lain adalah menggunakan 4 obat yang masih sensitif, lama pengobatannya sampai 18-24 bulan dimana 6 bulan di antaranya adalah obat suntik. Pada keadaan tertentu, pengobatan pasien MDR TB dapat memerlukan tindakan bedah.

 

Sumber : Amri. Majalah Farmacia. Agustus, 2006.

 

MALALARADIO 105.2 FM