Home Jantung Bawaan PENDEKATAN SISTIMATIS UNTUK MENGEVALUASI
PENDEKATAN SISTIMATIS UNTUK MENGEVALUASI PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 16 September 2008 23:27
PENDEKATAN SISTIMATIS UNTUK MENGEVALUASI
PENDERITA SIANOSIS

up_0334.jpgAda beberapa hal yang merupakan masalah pada anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik, antara lain sianotik berat, ketergantungan pada duktus arteriosus, serangan sianotik, gagal jantung, aliran ke paru berlebihan, dan abses serebri. Masalah -masalah tersebut harus diidentifikasikan sesegera mungkin dan diikuti dengan penanganannya.
Langkah selanjutnya adalah menegakkan diagnosis anatomi dan hemodinamik. Penyakit jantung bawaan sianotik terbagi atas dua kelompok besar yaitu yang dengan aliran ke paru berkurang, antara lain tetralogi Fallot, stenosis pulmonal dengan pirau dari kanan ke kiri, atresia pulmonal dengan atau tanpa ventricular septal defect (VSD), dan anomali Ebstein. Kelompok kedua adalah yang dengan aliran ke paru bertambah, yaitu transposisi arteri besar (TAB) dan common mixing. Yang termasuk dalam golongan common mixing adalah TAPVD, common atrium, CVAVSD, koneksi univentrikular termasuk atresi trikuspid/mitral, DORV/DOLV, trunkus arteriosus.
Modal diagnosis adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, elektrokardiogram (EKG), foto torak, dan ekokardiogram. Penyadapan jantung dilakukan hanya bila diperlukan untuk  menambah data seperti menilai vaskularisasi paru perifer pada kasus dengan stenosis pulmonal, mengukur resistensi paru, visualisasi koleteral.

Analisa segmental sequensial.
Pada  penyakit jantung bawaan sianotik, dengan hanya menyebutkan satu kelainan saja seperti TAB, tidak tercermin kelainan anatomi secara keseluruhan. Haruslah seluruh kondisi anatomi didiskripsikan, sehingga pengambilan keputusan untuk tindakan intervensi bedah dapat dilakukan dengan tepat.
Awalnya ditentukan dulu termasuk kelompok mana kasus tersebut apakah aliran ke paru berkurang atau bertambah. Caranya dengan anamnesis, dimana pada kelompok aliran ke paru berkurang, gejala utama adalah hipoksia dengan segala tanda-tandanya. Pada kelompok aliran  darah ke paru bertambah terdapat gejala-gejala infeksi saluran nafas bawah berulang, gangguan tumbuh kembang. Hal ini kemungkinan diperkuat dengan pemeriksaan foto torak, dinilai vaskularisasi paru apakah bertambah atau berkurang atau normal. Pada corakan vaskularisasi paru normal, dimasukkan pada kelompok aliran ke paru berkurang.
Selanjutnya secara keseluruhan ditentukan situs, koneksi atrio-ventrikel, dan koneksi ventrikulo-arterial.
Situs adalah posisi atrium yang satu terhadap yang lainnya. Dikenal tiga situs yaitu solitus, inversus dan ambigus.Situs ditentukan dari gambaran EKG, dimana pada situs solitus terlihat gelombang yang positif pada sadapan I, II dan aVL, dan negatif pada aVR. Sedang pada situs inversus dan ambigus tampak gelombang P negatif pada sadapan I, II dan aVL, dan positif pada aVR. Pada foto torak, posisi hepar dan gaster dapat menunjukkan situs. Pada situs solitus, gaster terletak di kiri, dan hepar dikanan, pada situs  inversus, gaster di kanan dan hepar di kiri. Bilateral hepar dengan posisi gaster ditengah menunjukkkan  situs ambigus. Komfirmasi situs dilakukan dengan menilai bronkus kiri dan kanan. Pada situs solitus, bronkus kiri yang lebih panjang dibandingkan bronkus kanan terletak dikiri dan bronkus kanan di kanan. Pada situs inversus kebalikannya, sedangkan pada situs ambigus tampak bilateral bronkus kiri atau bronkus kanan.
Penentuan situs secara ekokardiografi adalah dengan menvisualisasi masuknya vena cava  inferior ke atrium kanan. Pada situs solitus terlihat atrium kanan dikanan dan atrium kiri dikiri.
Koneksi atrio- ventrikel ditentukan kemudian dengan menentukan mana yang ventrikel kiri, dan mana yang kanan. Dengan melihat EKG, yaitu pada sandapan prekordial. Gambaran morfologi ventrikel kanan adalah RSr dan ventrikel kiri qRS. Dengan menilai gelombang qRS dapat ditentukan dimana letak ventrikel kiri dan kanan. Bila pada sadapan VI terlihat gambaran  RSr, dan qRS pada V6, dapat diperkirakan bahwa ventrikel kanan ada dikanan dan ventrikel kiri di kiri.
Ekokardiografi juga membantu dalam mengidentifikasi ventrikel. Ditentukan dimana letak ventrikel kiri dan kanan dengan melihat muskulus pappilaris dan trabekular yang halus. Identifikasi ventrikel dapat pula dengan menilai korda berinsersi ke dinding ventrikel bebas, sedang pada trikuspid satu korda  ke kanan, dapat diperkirakan koneksi atrio-ventrikel.
Koneksi ventrikulo-arterial selanjutnya ditentukan dengan menentukan pembuluh darah arteri  besar mana yang keluar dari kedua ventrikel. Dapat dilakukan dengan auskultasi bunyi jantung II. Pada relasi kedua arteri besar normal, bunyi jantung aorta lebih keras dibanding pulmonal. Bila terdapat malposisi kedua arteri besar, terdengar bunyi jantung II  tunggal dan mengeras. Ekokardiografi membantu dengan identifikasi arteri besar dan kemudian menentukan dari ventrikel mana keluar arteri besar tersebut.
Langkah selanjutnya adalah menentukan apakah ada defek septum baik septum atrium maupun ventrikel, PDA, stenosis katup pulmonal maupun aorta. Hal ini ditentukan dengan ekokardiografi.
Sebagai konklusi, analisis bertahap dilakukan dengan mempergunakan semua modal diagnosis, dari yang sederhana seperti anamnesis dan pemeriksaan fisik serta EKG dan foto torak, sampai yang canggih seperti ekokardiografi dan kateterisasi untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai kelainan yang didapat agar dapat ditentukan tindakan yang harus dilakukan.

Sumber : Ganesja M Harimurti. Kegawatan dalam Kardiologi. FKUI, Jakarta; 2001.
Terakhir Diperbaharui pada Senin, 07 September 2009 20:03
 

MALALARADIO 105.2 FM