Home Jantung Bawaan Jantung Bocor Salah Siapa
Jantung Bocor Salah Siapa PDF Cetak Surel
Ditulis oleh dr.H.M.Edial Sanif,SpJP,FIHA   
Jumat, 27 Juni 2008 20:41
Jantung bocor… Kesannya mengerikan… menakutkan, mungkin sebagian pembaca tidak ingin tahu lebih lanjut.. atau hanya membaca pendahuluan saja. Kemudian stop… Namun penulis merasa berkewajiban untuk menulis artikel ini agar pembaca dapat mencegah atau mengobati kelainan tersebut lebih optimal.

Jantung bocor berdasarkan mulai saat terjadinya kelainan dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu jantung bocor yang terjadi setelah bayi lahir, umumnya disebabkan oleh penyakit jantung rematik, sedangkan jika kelainan tersebut terjadi saat dalam kandungan atau dibawa sejak lahir maka disebut sebagai Penyakit Jantung Bawaan (PJB), yaitu terjadinya kalinan struktur anatomi dan fungsi sirkulasi, akibat gangguan perkembangan dan pembentukan struktur anatomi jantung pada tahap awal perkembangan janin. PJB tersebut berdasarkan penampilan klinis dibagi dua, yaitu PJB biru (sianosis), yaitu pasien akan memperlihatkan gejala atau tanda kebiruan dibibir lidah, ujung-ujung jari baik secara menetap atau baru timbul jika pasien menangis, saat melakukan aktifitas atau sesak napas. Jenis kedua yaitu PJB tidak biru (non sianosis), artinya secara klinis tidak memperlihatkan gejala atau tanda biru, Di Amerika jumlah penderita PJB sekitar 10 orang dari 1000 kelahiran hidup, sepertiganya dalam keadaan kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan, disamping itu 50% dari mereka gawat pada bulan pertama kehidupan berakhir dengan kematian. Di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta dan angka kelahiran hidup sekitar 2 %, maka diperkirakan jumlah PJB sekitar 35000 orang. Sedangkan yang bisa dilakukan penanganan dengan tindakan operasi baru sekitar 900 – 1000 orang pertahun (sebagian besar dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta) berarti selebihnya kemana..?

Salah Siapa .. ?

Kemungkinan-kemungkinan penyebab Jantung Bocor bawaan

Adalah pertama : faktor saat ibu hamil (prenatal), seperti infeksi rubella (campak Jerman), toksoplasmosis, fenilketonuria, epilepsi, Hamil diatas usia 40 tahun, trauma fisik dan psikis. Terkena radiasi sinar X bahkan nasib lagi sial influenzapun dapat menyebabkan PJB, Ibu yang menderita kencing manis, tekanan darah tinggi. Disamping itu penggunaan obat-obat tertentu saat ibu hamil juga dilaporkan dapat menyebabkan PJB, seperti thalidomede, obat rematik/penghilang rasa sakit (ibu profen), antibiotik (trimetropim, sulfonamide) sulfasalizin dan obat anti kejang (anti Konvulsan), … konon katanya pemakaian obat jamu, narkoba dan obat konrasesi, pelarut organic, asap rokok, cat tembok dan komsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan resiko PJB dan biasanya jika obat-obat tersebut dipakai pada 3 bulan pertama kehamilan. Kedua adalah faktor genetik yang dibawa oleh ayah atau ibu yang pernah menderita PJB, kelainan khromosom seperti sindroma down.

Jadi Apa sebagai penyebab pasti belum diketahui sehingga sulit untuk memastikan bahwa PJB pada anak penyebabnya apa dan kesalahan siapa..? Ibukah atau Bapakah.., menurut penulis kita tidak perlu mencari kambing hitam karena sampai sekarang belum dapat ditentukan penyebab secara pasti dari PJB tersebut. Yang penting bagaimana mengobati pasien secara optimal dan mencegah agar kehamilan ibu berikutnya terhindar dari semua resiko yang dapat merugikan janin.




Terakhir Diperbaharui pada Senin, 07 September 2009 20:12
 

MALALARADIO 105.2 FM