Home Hipertensi Hipertensi pada Anak
Hipertensi pada Anak PDF Cetak Surel
Ditulis oleh dr.H.M.Edial Sanif,SpJP,FIHA   
Selasa, 20 Januari 2009 23:54

Hipertensi pada Anakbayi.jpg 

Hipertensi sistemik, suatu tanda patologi, dikenal lebih sering pada orang dewasa  (prevalensinya pada orang dewasa 10-15 %) daripada pada anak dan remaja. Pada anak bahkan bayi dapat mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi), dan penyakit ini dapat menimbulkan kematian.

Hipertensi esensial atau primer yang tidak diobati menambah resiko infark miokard, stroke dan gagal ginjal pada individu yang terkena.

 

Penyebab hipertensi pada anak kategori utamanya adalah penyakit ginjal. “Hampir 80% penyebab hipertensi pada anak berasal dari penyakit ginjal”. Biasanya timbul dalam bentuk akut atau berlangsung menetap (kronik)”. Hipertensi akut dapat ditemukan pada penyakit sindroma hemotolik uremik, lupus eritematosus sistemik dan gagal ginjal akut. Hipertensi kronik biasanya berkaitan dengan penyakit parenkim ginjal Sedangkan penyakit jantung dan pembuluh darah bawaan sejak lahir atau yang disebut koarktasio aorta juga dapat menyebabkan hipertensi pada bayi maupun anak.

Untuk menambah deteksi awal hipertensi, pengukuran tekanan darah harus merupakan bagian awal pemeriksaan fisik periodik pada anak, dan penyelidikan riwayat keluarga dengan hipertensi secara teliti harus dilakukan.

Peringatan akan bahaya serangan hipertensi pada anak juga diserukan oleh banyak ahli hipertensi, mereka menyatakan bahwa hipertensi tak mengenal usia. “Anak bahkan bayi sekalipun dapat mengalami hipertensi. Penyakit ini juga dapat menimbulkan kematian. Maka, penting dilakukan deteksi dini dengan pengukuran darah secara rutin pada setiap anak usia 3 tahun ke atas paling sedikit sekali setahun.

Tekanan darah adalah hasil kali tahanan vaskuler perifer dan curah jantung. Pengukuran tekanan darah yang tepat memerlukan perhatian terhadap kenyaman penderita dan tergantung pada kualitas peralatan dan ketrampilan pemeriksa

 

 

 

DEFINISI

 

Hipertensi pada anak adalah keadaan di mana tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata berada pada persentil besar sama dengan 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit dalam tiga kali pengukuran.

 

TEKANAN DARAH

 

Tekanan darah diukur di lengan atau di kaki; di kaki sekurang – kurangnya satu kali kesempatan untuk memastikan bahwa koarktasio aorta tidak terlewatkan. Palpasi nadi femoralis dan/dorsalis pedis saja tidak dapat dipercaya dalam mengesampingkan koarktasio. Pada anak yang lebih tua, tensimeter air raksa dengan manset yang menutup sekitar duapertiga lengan atas atau kaki dapat dipergunakan untuk pengukuran. Manset yang terlalu kecil  akan selalu menghasilkan bacaan yang terlalu tinggi, sedang manset yangagak terlalu besar akan mencatat tekanan sedikit berkurang. Fasilitas klinik pediatri harus diperlengkapi dengan manset 3, 5, 7, 12, dan 18 cm untuk menyesuaikan ukuran penderita pediatri yang berspektrum luas. Suara Korotkoff pertama menunjukkan tekanan sistolik. Ketika tekanan manset dikurangi perlahan – lahan, suara biasanya teredam sebelum menghilang. Teknan diastolic dapat direkam ketika suara menjadi eredam (lebih banyak dipilih) atau ketika suara menghilang; yang pertama biasanya lebih tinggi dan yang kedua lebih rendah dari tekanan diastolik sebenarnya. Untuk penentuan tekanan darah ekstremitas bawah, stetoskop ditempatkan diatas arteri poplitea. Biasanya tekanan yang direkam di kaki dengan teknik manset lebih tinggi sekitar 10 mmHg daripada di lengan.

Pada bayi tekanan darah dapat diperoleh dengan auskultasi, palpasi, atau dengan metode flush.  Teknik terakhir ini adalah metode yang paling mudah pada bayi yang tidak tenang. Manset lebar yang tepat ditempatkan pada sekeliling lengan atas atau paha. Lengan bawah ditekan (diperas) dan manset digembungkan dengan cepat sehingga tampak kepucatan. Manset kemudian dikempeskan sedikit demi sedikit. Pada saat tunkai mulai memerah, tekanan darah diperoleh sesuai dengan nilai sistolik sedikit dibawah tekanan darah sistolik yang didapat dengan metode arteri atau auskultasi langsung. Tersedia juga alat ultrasonic (Doppler) dan Osilometrik (Dinamap), yang jika digunakan dengan tepat, memberi pengukuran yang tepat pada bayi maupun pada anak.

Teknan darah bervariasi sesuai dengan umur anak dan erat terkait dengan tinggi serta berta badan. Terjadi kenaikan bermakna selama remaja, dan banyak variasi sementara sebelum tingatan dewasa yang lebih stabil dicapai. Latihan fisik, kegembiraan, batuk, dan ketegangan dapat menaikkan tekanan sistolik anak sebanyak 40 – 50 mmHg diatas tingkat biasanya. Diharap akan terjadi variabilitas tekanan darah pada anak umur dan bentk tubuh yang hampir sama, dan pengukuran secara seri harus selalu dilakukan dalam mengevaluasi penderita dengan hipertensi.

Pada anak yang lebih tua yang kooperatif, inspeksi gelombang nadi vena jugulari memberikan informasi tentang  tekanan vena sentral dan tekanan atrium kanan. Vena leher harus diinspeksi dengan penderita duduk tegak lurus (90º).  Pada keadaan ini vena jugularis eksterna tidak boleh tampak diatas klavikula jika tekanan venosa tidak naik. Keadaan tekanan venosa dijalarkan ke vena jugularis interna yang dapat tampak sebagai pulasi vena tanpa distensi yang dapat dilihat; pulsasi demikian tidak tampak pada anak normal yang sedang duduk miring pada sudut 45º. Karena vena – vena besar berhubngan langsung dengan atrium kanan, perubahan tekanan dan volume pada ruang atrium ini juga dijalarkan ke vena. Terjadi suatu pengecualian pada obstruksi vena kava superior, dimana pulsasi vena hilang.

 

Tabel Presentil spesifik-umur  pengukuran tekanan darah pada anak dari lahir sampai umur 12 bulan fase korotkof  IV (k4) digunakan untuk TD diastolic (Dari national heart, Lung and Blood presur control in children-1987.  Dikutip dengan izin pediatric. Copyright 1987.

PERSENTIL KE-90

UMUR (Bulan)               0      1      2      3      4      5      6     7      8      9     10    11    12     

TD SISTOLIK              87  101  106  106  106  105  105  105  105  105  105  105  105 

TD DIASTOLIK          68    65    63     63   63    65   66    68    68    69     69   69     69

TINGGI BADAN(cm)  51    59    63    66   68    70   72    73    74     76     77   78     80

BERAT BADAN(Kg)                 4      4      5      5     6      7     8      9      9     10    10    11     11 

 

Tabel persentil spesifik – umur pengukuran tekanan darah pada anak umur 1-13 tahun: fase korotkof IV (K4) digunakan untuk tekanan darah diastolik.

PERSENTIL KE-90

UMUR (Tahun)                1     2      3      4      5      6     7      8      9     10    11    12    13 

TD SISTOLIK              105  106  107  108  108  111  112  114  115  117  119  121  124

TD DIASTOLIK            69    68     68   69    69    70    71    73   74     75    76    77    79

TINGGI BADAN(cm)    80    90  100  108  115  122  129  136  141  147  153  159  165

BERAT BADAN(Kg)                 11    14    16    18    22    25    29    34    39    44    50    56    62

 

 

ETIOLOGI DAN  PATOFISIOLOGI

Beberapa penyebab hipertensi pada anak bervariasi sesuai dengan variasi umur di antaranya penyakit ginjal, ujar Dr.Sandy Ruslan,Sp.PD(Bagian penyakit dalam FKUI) kategori utamanya adalah penyakit ginjal. “Hampir 80% penyebab hipertensi pada anak berasal dari penyakit ginjal. Penyebab lain gangguan hormonal karena penyakit endokrin, gangguan saraf karena tumor, infeksi atau trauma otak, pemakaian obat kortikosteroid dan obat tetes hidung, serta penyakit jantung dan pembuluh darah yang dapat menimbulkan hipertensi pada bayi maupun anak.

Kenaikan curah jantung atau kenaikan tahanan menyababkan kenaikan tekanan darah, walaupun dari salah satu faktor ini naik sedang yang lain turun, tekanan darah mumgkin tidak naik.

Beberapa anak dari orangtua yang hipertensi dapat mengekresi metabolik katekolamin urin yang lebih tinggi atau dapat berespon pada pembebanan natrium dengan penambahan berat badanyang lebih besar dan penambahan tekanan darah dari pada mereka yang tanpa riwayat hipertensi.

Anak dan remaja muda dengan tekanan diatas persentil Ke-90 menurut umur sering menjadi orang dewasa dengan tekanan darah yang tinggi

Etiologi lainnya pada hipertensi  Misalnya tekanan darah naik. Pada bayi baru lahir paling sering dihubungan dengan kateterisasi arteri umbilikalis tinggi dan penyumbatan arteri rnalis karena pembentukan trombus.

Anak dengan hipertansi sekunder mempunyai kelainan ginjal sekitar 75-80%. Infeksi saluran kencing, penderita ini sering terkait dengan lesi obtruktif saluran kencing. Hipertansinya dapat disertai dengan retansi natrium, sekresi renin atau penurunan produsi bradikinin. Anak denagan kenaikan tekanan darahselam episode akut, infeksi dapat midah menimbulkan hipertensi esensial. Lesi parenkim ginjal lain yang disetai hipertensi umumnya terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus dari nefritis dapat menyebabkan penimbunan garam dan air, sedangkan lesi masa (kista, tumor padat, hematom) dapat menggangu perfusi bagian ginjal dan merangsang produksi renin oleh aparatus jukstaglomerulosa. Pada tumor wilms dan sel tumor juksta glomerulosa (hemangioparisitoma) mensekresi renin atau penekan substansi tanpa pengendalian umpan balik.

Pada penyakit jantung dan pembuluh darah bawaan sejak lahir atau yang disebut koarktasio aorta juga dapat menyebabkan hipertensi pada bayi maupun anak. Penyakit ini ditandai dengan tekanan darah pada lengan atas lebih tinggi dari tekanan darah pada tungkai, denyut nadi perifer melemah atau sulit diraba dan terdengar suara bising jantung. Koartasio aorta dan stenosis arteri renalis, menimbulkan hipertensi melalui perangsangan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Angiotensin I diubah menjadi angiotensin II oleh  enzim pengubah angiotensin (angiotensin comperting enzim = ACE). Angiotensin comperting enzym menyebabkan degradasi metabolik kinin penyebab vasodilatasi. Anngitensin II adalah vasokosntriktor kuat dan merangsang sekresi aldosteron. Kedua berpegaruh dalam kenaikan tekanan darah.

Hipertensi sistolik dan takikardi sering ada pada hipertiroidisme, tetapi tekanan diastolik biasanya tidak naik. Hiperkalsemia sebagai akibat hiperparatiroidisme atau bukan sering menyebabkan kenaikan ringan pada tekanan darah karena bertambahnya tonus vaskuler. Gangguan adenokortikal (tumor yang mensekresi aldosteron, hiperplasia adrenal, sindrom cushing) dapat menyebkan hipertensi jika ada kenaikan pengaruh dari mineralokortikoid karena bertambahnya aldosteron, atau kortisol.

Tumor yang mensekresi katekolamin menyebabkan hipertensi karena pengaruh epinefrin dan norepinefrin pada jantung dan vaskuler.

Efek toksik dari obat dapat menaikan tekanan darah. Obat inhalasi, tetes hidung atau dekongestan hidung umumnya menghasilkan vasokonstriksi perifer dan berbagai tingkat rangsangan jantung yang dapat menimbulkan tekanan darah yang tinggi dan menimbulkan kejang-kejang atau perdarahan inntrakranial.

 JENIS HIPERTENSI PADA ANAK

Ada dua jenis hipertensi pada anak, yakni :

1. Hipertensi primer atau esensial, yang berhubungan dengan faktor keturunan, asupan garam, stres, dan kegemukan. 

2. Hipertensi sekunder, terjadi akibat penyakit lain yang mendasarinya dan menyebabkan tekanan darah tinggi. Penelitian menunjukkan, hipertensi pada anak 80% merupakan hipertensi sekunder.

Diperkirakan 2/3 anak dengan hipertensi kelak akan menderita penyakit kerusakan ginjal, jika tidak ditangani dengan tepat.

Banyak faktor yang mempengaruhi tekanan darah anak. Anak bertubuh lebih berat atau lebih tinggi mempunyai nilai tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan anak sebaya yang lebih kurus dan pendek.

GEJALA KLINIS

Umumnya tanpa keluhan, namun pada kondisi tertentu dapat saja terdapat keluhan yang timbul pada anak adalah mimisan, sakit kepala, yang tidak tahu sebabnya, pusing, penglihatan tiba-tiba kabur, nyeri perut, mual-mual, muntah, napsu makan berkurang, gelisah, berat badan turun, sesak nafas, nyeri dada dan keringat berlebihan,  pertumbuhan dan perkembangan yang terlambat.

Karena itu, penting untuk melakukan deteksi dini dengan pengukuran tekana darah secara rutin pada anak usia 3 tahun ke atas, paling tidak setahun sekali.

 DIAGNOSA

            Sebelum penderita didiagnosa sebagai hipertensi, beberapa data tekanan darah harus ada. Jika tekanan hanya naik pada kunjungan pertama, pengukuran pada dua atau tiga kesempatan pada minggu berikutnya dapat menunjukan bahwa kenaikan awal terkait dengan kekuatiran, namun penderita demikian memerlukan evaluasi tahunan, karena pada mereka selanjutnya dapat terjadi hipertensi menetap. Jika tekanan terus naik dalam beberapa minggu atau bulan pengamatan, pemerikssan diagnostik tambahan terindikasi.

            Jika umur, tinggi tekanan darah, atau gejala-gejala memberi kesan bahwa kemungkinan hipertensi sekunder. Tekanan darah ektremitas bawahharus dibandingkan dengan tekanan darah pada lengan, untuk mengesampingkan koartasio aorta.

            Uji skrining dilakukan pemeriksaan darah lengkap, analisis urin, elektrolit serum, nitrogen urea darah, kkreatinin serum dan asam urat. Foto Rongen Thorax, EKG dan Ecocardiografi membantu dalam penilaian respon jantung terhadap tekanan darah yang naik.  

 FAKTOR RESIKO YANG MENYEBABKAN ANAK MENDERITA HIPERTENSI

1. Faktor keturunan, dalam riwayat keluarga ada yang terkena hipertensi.

2. Anak lahir dengan berat badan rendah, tapi kemudian mengalami kelebihan berat

    badan.

3. Saat dilahirkan mengalami masalah sehingga harus lebih lama tinggal di rumah sakit.

4. Menderita penyakit jantung bawaan.

5. Kurang aktivitas

6. Konsumsi garam, lemak dan gula berlebihan

7. Bapak ibu perokok

8. Obesitas (kegemukan)

9. minum obat-obat kortikosteroid

 PENATALAKSANAAN

Baik pendekatan non farmakologis maupun farmakologis, pengobatan berguna dalam menatalaksana penderita dengan kenaikan tekanan darah. Intervensi akan difokuskan pada faktor – faktor penting pada pencegahan. Karena banyak penderita dengan kenaikan tekanan darah ringan adalah pada kegemukan. Pengurangan berat badan dapat berakibat penurunan hingga 5 – 10 mmHg pada tekanan sistolik, dan penurunan 5 mmHg pada tekanan diastolik. Pengurangan masukan natrium sering akan menurunkan tekanan darah sekitar 5 mmHg. Program latihan aerobik yang tetap teratur juga ternyata menurunkan tekanan darah pada kelompok penderita dengan hipertensi essensial ringan. Mengingat manfaat ini dan pengaruh yang tidak diinginkan dari banyak obat – obat anti hipertensi, program terapi non farmakologis yang diawasi dengan baik harus diresepkan dengan baik pada penderita hipertensi essensial. Bila penderita tidak mau bekerjasama dengan pendekatan tanpa obat atau pengurangan tekanan tidak memadai harus diberikan obat anti hipertensi.

            Untuk anak dengan hipertensi sekunder dan untuk penderita dengan hipertensi essensial, terapi farmakologis akan sangat diperlukan. Sejumlah obat anti hipertensi tersedia untuk obat gawat darurat hipertensif dan untuk terapi lama (Tabel 1).

Pada penurunan tekanan darah, penderita selama krisis hipertensi, penting untuk memilih obat dengan mula kerja cepat dan tetap mengevaluasi hasil tekanan darah. Karena ensefalopati hipertensi merupakan komplikasi gawat darurat hipertensi yang mungkin terjadi, obat anti hipertensif dengan efek samping sistem saraf sentral minimal harus dipilih agar menghindari keracunan antara gejala penyakit dan pengaruh buruk obat. Pemberian anti hipertensi intravena lebih disukai agar memungkinkan titrasi penrunan tekanan darah ketika obat diturunkan. Karena penurunan tekana darah terlalu cepat mengganggu perfusi jaringa yang cukup. Tekanan darah harus dikurangi sekitar sepertiga dari penurunan total yang direncanakan dalam enam jam pertama dan jumlah sisanya dalam 48 – 72 jam berikutnya.

 

KOMPLIKASI

komplikasinya pada organ tubuh lain sangat besar, seperti pembengkakan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, gangguan penglihatan sampai dapat terjadinya kebutaan.

Beberapa ahli dan organisasi hipertensi internasional menganjurkan agar anak anak mulai usia 3 tahun dilakukan pengukuran tekanan darah setahun sekali untuk mengetahui ada tidaknya hipertensi agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Sehingga pembengkakan jantung, gagal ginjal, gangguan saraf dan kebutaan dini pada anak kita sebagai generasi penerus bangsa dapat dihindari.

 

TIPS UNTUK MENURUNKAN FAKTOR RESIKO ANAK MENDERITA HIPERTENSI

1. Berikan air susu ibu pada si kecil agar semua faktor risiko hipertensi langsung merosot.

2. Ubah pola makan anak jika ia menderita kegemukan atau hasil diagnosisnya memang mengalami tekanan darah tinggi

3. lakukan program penurunan berat badan si kecil bila ia telah mengalami obesitas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 27 September 2009 07:47
 

MALALARADIO 105.2 FM