Home Berita Umum PERKI, bench-marking dan romantism touch
PERKI, bench-marking dan romantism touch PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 06 Agustus 2008 19:28

Dr. Sunarya Soeryanata , SpJP-K, adalah president PERKI yang baru, masih ada yang menyimpan tema kampanyenya di HP-nya masing-masing, 8 baris layar lebar  cell phone, 301 karakter, dengan banyak singkatan. Beliau memang dipilih menjadi ketua PERKI dengan cara one man man one fote, cara yang barangkali baru pertama kali dilaksanakan dikalangan profesi kedokteran dengan teknologi cell phone.

PERKI juga baru saja meresmikan gedungnya yang baru, PERKI HOUSE; "Sampai saat ini baru PERKI, satu-satunya organisasi profesi yang sudah memiliki kantornya sendiri" kata Dr. Hasnah Siregar, SpOG, Ketua Hubungan Masyarakat Ikatan Dokter Indonesia, yang mewakili Ketuanya membuka gedung tersebut.

Kemandirian profesi itu fatwa magisnya Dr. Sunarya yang pertama, yang kedua bench marking dengan Asia Pacific dan European Society of Cardiology. Lho, kok Eropa tanya saja keheranan, sementara bayangan saya USA paling canggih. USA jauh mas, Eropa yang terdiri dari banyak negeri, lebih mirip dengan negeri kita yang banyak pulau dan suku bangsa. Ketiga, membantu pemerintah serta anggotanya untuk kesejahteraan semua. Jangan lupa AFTA, tahun 2010-2012 berlaku open trade and service, jangan sampai PERKI menjadi penonton di negeri sendiri.

Bener nih? Tidak percaya? Buka saja www.klikdokter.com, pagi itu Dr. Doddy Partomiharjo SpM, mencoba menggelorakan kembali romantism touch kepada almamater dan profesi dokter agar bermartabat. Sekarang saja sudah  ada 500.000 orang kaya Indonesia yang berobat ke Sinagpore tiap tahunnya, tetapi masih ada 5 juta orang kaya lainnya yang menjadi pasarnya, masih ada lagi 10 juta yang sekaya orang Malaysia di Indonesia. Ada satu rumah sakit di Singapore yang tahun -tahun ini akan membuka 10 cabangnya di Indonesia. Tentu saja terlalu lama kalau membangun sendiri, serta menyiapkan SDM dan fasilitas lainnya. Beli saja rumah sakit-rumah sakit yang sudah ada, tidak ada masalah dengan keuangannya. Jadi dokter-dokter mereka dengan semua teknologinya akan mudah bekerja di rumah sakitnya sendiri di Indonesia. Sementara sebagian dokter-dokter kita dan Departemen kesehatan masih dapat membantu pasien lainnya dan pasien ASKESKIN.

Skenarionya memang menyedihkan serta menakutkan,tetapi belajar dari hidup kita sehari-hari, sering apa yang kita takutkan itu,tidak pernah terjadi. Semoga kita waspada dan Allah Yang Maha Kuasa melindungi kita semua, amin.

Sumber : Budhi Setianto (Tabloid Profesi KARDIOVASKULER)

Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 19 Juni 2010 03:30
 

MALALARADIO 105.2 FM